Minggu, Maret 06, 2011

The Blind Side: Kisah Nyata Collins Tuohy and Michael Oher

Collins Tuohy
Read Collins Tuohy Story in English?

Kisah nyata tentang Collins Tuohy yang baik hati dan tulus dalam merawat Michael Oher membuat kita melakukan evaluasi diri. The Blind Side merupakan sebuah film yang sangat luar biasa yang menggambarkan suatu perwujudan kasih sejati Collins Tuohy. Kisah tentang Collins Tuohy ini tidak banyak terjadi di dunia ini, karena sedikitnya orang seperti COLLINS TUOHY.

Film The Blind Side tidak hanya didukung oleh performance dari Sandra Bullock yang sangat baik dan berpengalaman tetapi dengan kekuatan cerita tentang Collins Tuohy mampu menarik hati para penonton. Film yang dibintangi aktris Sandra Bullock dan penyanyi Tim McGraw ini, menggambarkan kisah hidup yang membangkitkan semangat, kisah nyata dari seorang gelandangan Michael Oher dalam perjuangannya yang menyakitkan untuk menjadi orang kaya di Baltimore Raven. Namun demikian, film ini juga menunjukkan kegigihan Collins Tuohy sebagai ibu angkat Michael Oher untuk membimbing menuju kesuksesan Michael Oher.

Film ini (diangkat dari buku berjudul sama karangan Michael Lewis) menggambarkan kisah nyata yang luar bisa dari Mrs. Collins Tuohy dan Michael Oher, seorang anak keturunan African-American yang tuna wisma dan sebelumnya berasal dari keluarga broken home. Anak ini diadopsi oleh keluarga Collins Tuohy, pasangan keluarga yang kaya yang ingin membantu anak ini mencapai potensi hidupnya.

Di saat yang sama kehadiran Michael Oher membuat keluarga Collins Tuohy menjadi penasaran untuk mencari asal usulnya. Hidup dalam lingkungan yang baru membuat anak remaja ini juga menghadapi sederetan tantangan yang harus ditaklukan. Sebagai seorang pemain football dan pelajar dia bekerja keras dan dengan bantuan pelatih dan keluarga yang mengadopsinya terutama dari Ibu angkatnya, Collins Tuohy yang penuh kasih dan selalu mendorongnya untuk maju, akhirnya dia menjadi seorang pemain NFL untuk the Baltimore Ravens.

Sandra Bullock yang berperan sebagai Leigh Anne Tuohy (Mrs. Collins Tuohy) mengomentari bahwa perjumpaannya dengan Mrs. Collins Tuohy menunjukkan bahwa masih ada orang Kristen yang benar-benar menjalani imannya. Bullock mengatakan bahwa dia berterima kasih kepada Mrs. Collins Tuohy yang adalah anggota Grace Evangelical Church di Memphis.

Mengenal Collins Tuohy, menunjukan bahwa iman itu benar-benar otentik. “Dia begitu terbuka, jujur dan berpandangan ke depan”. Saya merasa pada akhirnya saya bertemu seseorang yang mempraktekkan kekristenan itu tapi tidak dengan berkhotbah. ”

Ada komentar menarik dari pengamat film The Blind Side yang mengatakan bahwa ketika anda menonton film ini anda tidak hanya akan menemukan Michael Oher tapi anda juga akan menemukan keluarga Collins Tuohy yang penuh iman dan ketulusan.

Jumat, Maret 04, 2011

Nurdin Halid Akui Adanya Pengaturan Skor Pertandingan

Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Nurdin Halid menepis tudingan adanya sinyalemen perjudian yang marak dalam setiap pertandingan selama kepemimpinannya. Akan tetapi, Nurdin Halid tak menepis masih adanya oknum-oknum yang mengatur skor pertandingan dalam kompetisi di bawah naungan PSSI.

Demikian disampaikan Nurdin Halid saat wawancara dengan Kompas, Jumat (4/3) malam lalu di sebuah hotel berbintang di Jakarta.

Nurdin Halid Mengakui Ada Pengaturan Skor


"Memang, saya tidak memungkiri kalau itu (pengaturan skor pertandingan) sudah hilang. Akan tetapi, saya kira tidak ada seperti itu (adanya perjudian)," kata NURDIN HALID.

Sebelumnya, Kompas menanyakan adanya kecurigaan perjudian dalam setiap pertandingan dan pengaturan pertandingan yang banyak menguntungkan tim tuan rumah dengan cara memberikan kartu merah dan tendangan penalti bagi tim tuan rumah yang sudah kalah.

Nurdin Halid: Isu Ini Sudah Lama


Menurut Nurdin Halid, saat ia masih menjadi manajer selama empat periode di Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), isu terebut sudah ada. Hingga kini, isu dan persepsi itu masih terus berlanjut. "Sekarang ini, untuk mengukur ada atau tidaknya pengaturan pertandingan indikatornya sangat sederhana. PSSI memiliki angka parameternya,” ujar Nurdin Halid.

Nurdin Halid mengambil contoh, yakni lewat kartu kuning atau kartu merah yang dikeluarkan wasit dalam setiap pertandingan. "Berapa penalti yang dikeluarkan wasit untuk tim tamu yang bertanding. Itu lonjakannya luar biasa. Sebab, justru yang keberatan sekarang adalah tim tuan rumah. Tim tuan rumah Wasit justru mengcomplain ada ketidakberesan di wasit. Jadi, tidak benar tim tuan rumah selalu mengatur untuk penalti melalui wasit," jelas Nurdin Halid.

Dikatakan Nurdin Halid, untuk mencegah adanya pengaturan pertandingan, PSSI telah menugaskan intelijen dari badan liga sepakbola untuk diterjunkan di setiap pertandingan untuk memantau adanya pengaturan pertandingan.

"Kalau ada laporan, saya grounded dulu wasitnya, baru saya proses belakangan. Jika benar dipulihkan dan mendapat hadiah, jika terbukti salah, hukumannya diteruskan,” demikian penjelasan Nurdin Halid.

Nurdin Halid: Ada Orang Tidak Suka


Nurdin Halid mengakui penolakannya oleh sejumlah pihak dengan aksi demontrasi mengatasnamakan revolusi PSSI , termasuk di antaranya tuduhan adanya perjudian dan pengaturan pertandingan, hal itu diciptakan oleh orang-orang yang tidak menyukainya dan ingin mendongkel dirinya sebagai calon Ketua Umum PSSI untuk periode yang ketiga kalinya. "Mereka ingin mendongkel saya, karena sudah mapan sebagai Ketua Umum PSSI," kata Nurdin Halid sebagaimana yang dikutip dari Kompas.com.

Senin, Februari 28, 2011

Perilaku Agresif : Karena Genetis Atau Lingkungan?

Setiap tahunnya, jumlah tindak kejahatan kekerasan (violent crime) di Indonesia seperti pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan penyerangan terus meningkat. Pada tahun 2004 diperkirakan jumlah tindak kejahatan kekerasan yang terjadi sekitar 196.931 kasus sedangkan pada tahun 2005 jumlah tindak kejahatan kekerasan yang terjadi sekitar 209.673 kasus (www.tempointeraktif.com). Tindakan kejahatan kekerasan yang terus meningkat ini merupakan contoh dari perilaku agresif yaitu perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain (Myers, 1996). Berdasarkan penyebabnya, perilaku agresif ini dapat terjadi karena faktor disposisi/kepribadian (nature) dan faktor situasional (nurture).

Pada penelitian awal mengenai perilaku agresif, Freud (1930-1963) percaya bahwa agresif adalah bagian dari sifat dasar manusia yang innate, independent, dan instinctive. Menurutnya, agresif adalah salah satu naluri dasar manusia yaitu naluri untuk mati (thanatos/death instinct) yang bertujuan untuk mempertahankan jenisnya (survival). Bentuk dari thanatos/death instinct ini adalah naluri agresif yang menyebabkan seseorang ingin menyerang orang lain, berkelahi, berperang, atau marah. Pandangan serupa juga diajukan oleh Konrad Lorenz, ilmuwan pemenang hadiah nobel. Menurut Lorenz (1974), perilaku agresif terutama berasal dari insting berkelahi (fighting instinct) yang diwariskan (inherited) untuk memastikan bahwa hanya pria yang terkuat yang akan mendapatkan pasangan dan mewariskan gen mereka pada generasi berikutnya.

Di sisi yang lain, kritik yang banyak bermunculan terhadap pendukung teori nature menunjukkan bahwa kelompok teori ini belum dapat menjelaskan dengan tepat pengaruh faktor disposisi/kepribadian terhadap perilaku agresif. Kekurangan dari teori ini adalah tidak memperhatikan keanekaragaman yang terdapat pada tiap individu yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Jika perilaku agresif memang disebabkan oleh faktor bawaan (misal: naluri, gen), seharusnya perilaku agresif tersebut sama untuk setiap orang yang memiliki naluri atau gen tersebut kapan saja dan dimana saja. Pada kenyataannya, frekuensi dan cara tiap individu dalam mengekspresikan agresivitasnya berbeda-beda tergantung lingkungan tempat ia tinggal. Contoh: di Norwegia, angka pembunuhan sangat rendah yaitu tidak sampai 1 orang dalam 100.000 penduduk tetapi di Irlandia jauh lebih tinggi yaitu 13 orang dalam 100.000 penduduk dan di Muangthai mencapai 14 orang dalam 100.000 penduduk (data tahun 1970, dikutip dari Archer & Gartner, 1984).

Melihat banyaknya kritik yang bermunculan, para ahli psikologi lainnya berusaha untuk menjelaskan perilaku agresif dari sudut pandang yang berbeda yaitu berdasarkan faktor situasional (nurture). Salah satu teori yang muncul adalah teori social learning perspective (e.g., Bandura, 1997) yang berawal dari sebuah ide bahwa manusia tidak lahir dengan sejumlah respons-respons agresif tetapi mereka harus memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct experience) atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya (Anderson & Bushman, 2001; Bushman & Anderson, 2002). Dengan demikian, berdasarkan pengalaman masa lalu mereka dan kebudayaan dimana mereka tinggal, individu mempelajari: (1) berbagai cara untuk menyakiti yang lain, (2) kelompok mana yang tepat untuk target agresi, (3) tindakan apa yang dibenarkan sebagai tindakan balas dendam, (4) situasi atau konteks apa yang mengizinkan seseorang untuk berperilaku agresif. Singkatnya, teori social learning perspective berusaha menjelaskan bahwa kecenderungan seseorang untuk berperilaku agresif tergantung pada banyak faktor situasional, yaitu: pengalaman masa lalu orang tersebut, rewards yang diasosiasikan dengan tindakan agresif pada masa lalu atau saat ini, dan sikap serta nilai yang membentuk pemikiran orang tersebut mengenai perilaku agresif.

Proses-proses belajar sosial yang dapat menimbulkan perilaku agresif:
1. Classical conditioning. Perilaku agresif terjadi karena adanya proses mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya. Contoh: pelajar STM X yang sering tawuran dengan pelajar STM Y akan mengasosiasikan pelajar STM Y sebagai musuh/ancaman sehingga mereka akan berperilaku agresif (ingin memukul/berkelahi) ketika melihat pelajar STM Y atau orang yang memakai seragam STM Y.
2. Operant Conditioning. Perilaku agresif terjadi akibat adanya reward yang diperoleh setelah melakukan perilaku agresif tersebut. Reward tersebut bersifat tangible (memperoleh sesuatu yang dia mau), sosial (dikagumi/disegani oleh kelompoknya), dan internal (meningkatkan self-esteem orang tersebut). Contoh: A sering berkelahi dan menganggu temannya karena ia merasa disegani oleh teman-temannya dengan melakukan tindakan agresif tersebut.
3. Modelling (meniru). Perilaku agresif terjadi karena seseorang meniru seseorang yang ia kagumi. Contoh: seorang anak kecil yang mengagumi seorang petinju terkenal akan cenderung meniru tingkah laku petinju favoritnya tersebut, misalnya menonjok temannya.
4. Observational Learning. Perilaku agresif terjadi karena seseorang mengobservasi individu lain melakukannya baik secara langsung maaupun tidak langsung. Contoh: seorang anak kecil memiting tangan temannya setelah menonton acara Smack Down.
5. Social Comparison. Perilaku agresif terjadi karena seseorang membandingkan dirinya dengan kelompok atau orang lain yang disukai. Contoh: seorang anak yang bergaul dengan kelompok berandalan jadi ikut-ikutan suka berkelahi atau berkata-kata kasar karena ia merasa harus bertingkah laku seperti itu agar dapat diterima oleh kelompoknya.
6. Learning by Experience. Perilaku agresif terjadi karena pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh orang tersebut. Contoh: anak yang sejak kecil sering mengalami perilaku agresif (berkelahi/dipukuli) cenderung akan menjadi anak yg agresif (suka berkelahi).

Melihat uraian-uraian di atas, penulis sependapat dengan Anderson & Bushman bahwa manusia tidak lahir dengan sejumlah respons-respons agresif tetapi mereka harus memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct experience) atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya. Menurut penulis, individu yang tidak mempunyai sifat agresif cenderung akan menampilkan perilaku agresif jika ia telah mempelajarinya dari lingkungannya. Sebaliknya, individu yang mempunyai sifat agresif cenderung tidak akan menampilkan perilaku agresif jika lingkungannya tidak mendukung atau mengajarinya berperilaku agresif. Hal ini dibuktikan melalui eksperimen klasik dengan boneka Bobo yang dilakukan oleh Bandura & Ross (Bandura, Ross, & Ross, 1961). Dalam eksperimen ini, pada kelompok murid TK yang pertama ditampillkan video yang berisi perilaku agresif (memukul, menendang, membanting boneka Bobo) sedangkan pada kelompok murid TK yang kedua ditampilkan video yang tidak berisi perilaku agresif. Hasilnya, kelompok murid TK yang pertama berperilaku jauh lebih agresif dibandingkan dengan kelompok murid TK yang kedua bahkan mereka meniru adegan-adegan yang terdapat dalam video yang berisi perilaku agresif.

Selain itu, penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa pada hewan yang lebih rendah, banyak respons yang selama ini dianggap instinctive murni ternyata sebenarnya adalah respons yang dipelajari. Contoh: seekor kucing muda memburu tikus bukan karena instingnya tetapi karena mereka mempelajari perilaku itu dengan melihat kucing lain yang lebih tua (Kuo, 1930). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif lebih merupakan perilaku yang dipelajari dari lingkungan (nurture) daripada perilaku yang diwariskan (nature).

Tulisan ini dikutip dari penulis asli, Ricci Saadi Wijaya S.Psi

Jumat, Februari 11, 2011

Hikmah Sejarah Perdebatan Kepemimpinan Islam di Saqifah Bani Saidah

Sejarah Saqifah bani Saidah
Sejarawan Ibnu Ishaq mengisahkan bahwa begitu Rasululullah SAW wafat, Umar bin al Khaththab mendengar kabar bahwa kaum Muhajirin berkumpul di Saqifah Bani Saidah untuk membahas siapa yang akan menggantikan kepemimpinan Rasulullah. Umar langsung mengajak Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin al Jarrah untuk mendatangi mereka.

Sesampai di sana ternyata kabar tersebut benar. Orang-orang Anshar telah berkumpul. Salah seorang dari mereka, yakni Saad bin Ubadah berpidato: “Amma ba’du. Kami Ansharullah dan tentara Islam. Sedangkan kalian wahai kaum Muhajirin adalah keluarga besar kami. Kalian terusir dari kaum kalian. Apabila mereka (Muhajirin) hendak lepas dari kami (Anshar) merampas masalah (ke-kuasaan) kami”.

Ketika itu Umar ingin menanggapi pidato Sa’ad dan telah merangkai kata-kata dalam pikirannya tapi dia tahan karena berfikir bahwa Abu Bakar pasti akan menanggapinya dengan tanggapan yang lebih baik. Benar. Semua rangkaian kata yang telah dipersiapkan Umar telah disampaikan oleh Abu Bakar dengan susunan yang lebih baik dan lebih menyentuh sehingga membuat Saad diam.

Abu Bakar berkata: “Apa yang kalian sebutkan tentang kebaikan kalian adalah hak kalian. Semua orang Arab tidak mengingkari hal ini kecuali orang-orang Quraisy. Sebab mereka mempunyai nasab keturunan yang terbaik di antara orang-orang Arab”

Lalu sambil memegang tangan Umar dan Abu Ubaidah, Abu Bakar berseru: “ Oleh karena itu, bila kalian rela memilih di antara kedua orang ini, maka baiatlah salah satu dari keduanya!”

Namun salah seorang di antara orang Anshar ada yang berteriak: ”Wahai orang-orang Quraisy, kamilah yang menjadi tempat berlindung Rasulullah dan melindungi kemuliannya. Kalau begitu begini saja, kami punya amir dan kalian punya amir sendiri”.

Pernyataan tersebut menyulut kegaduhan di antara para hadirin. At Thabari meriwayatkan bahwa dalam situasi kritis itu Abu Ubaidah bin Al Jarrah menyampaikan kata-kata bijak yang menyentuh hati kaum Anshar. Abu Ubaidah berkata: “Wahai kaum Anshar, kalian adalah orang-orang yang pertama kali menjadi pelindung dan penolong (Nabi dan agamanya). Janganlah kemudian kalian menjadi orang-orang yang pertama kali berubah dan berpaling”.

Basyir bin Saad, salah seorang pemim-pin Anshar dari kaum Khazraj berkata: “Demi Allah, kita sekalipun yang paling utama dalam memerangi orang-orang musyrik dan paling dahulu memeluk agama Islam ini, tidak ada yang kita inginkan selain ridlo Allah dan ketaatan kepada Nabi kita serta menekan kepen-tingan pribadi kita. Maka tidak pantas kita memperbelit-belit urusan ini terhadap yang lain. Dan seyogyanya kita tidak memiliki orientasi duniawi sama sekali. Karena dalam hal ini sebenarnya Allah telah memberikan kenikmatan kepada kita. Ingatlah bahwa Muhammad adalah dari keturunan Quraisy dan dalam hal ini kaumnyalah yang lebih berhak dan lebih utama. Demi Allah, Allah tidak akan melihat selama-lamanya kepada para perebut kekuasaan mereka dalam urusan ini. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menentang serta mengambil kepemimpinan dari mereka”.

Kata-kata Basyir inilah yang meneduhkan dan karena kata-kata itulah orang-orang Khazraj menjadi tenang.

Ketika itu Abu Bakar yang duduk di antara Umar dan Abu Ubaidah segera memegang tangan tokoh sahabat Muhajirin itu. Abu Bakar berkata: “Ini Umar dan ini Abu Ubaidah, siapa di antara mereka berdua yang kalian kehendaki, maka baiatlah!”. Lalu Abu Bakar mengajak mereka bersatu dan mengingatkan mereka dari perpecahan.

Demi melihat tidak ada jawaban spontan dan melihat gelagat yang mengkhawatirkan, Umar segera berseru lan-tang:“Hai Abu Bakar, ulurkanlah tanganmu!”.

Abu Bakar lalu mengulurkan tangan-nya dan Umar segera membaiatnya dengan menyebut-nyebut keutamaannya. Demikian pula Abu Ubaidah membaiat Abu Bakar dengan menyebut-nyebut keutamaannya. Langkah mereka diikuti oleh tokoh kaum Khazraj, Basyir bin Saad dan tokoh kaum Aus, Usaid bin Hudlair. Selanjutnya ruang Saqifah itu penuh sesak oleh orang-orang yang membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, amirul mukminin, pengganti Rasululullah seba-gai pemimpin dan penguasa atas kaum muslimin, bukan sebagai pengganti beliau dalam kedudukan sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT.

Hikmah Sejarah Dalam Bidang Kepemimpinan
Sejarah perdebatan siapa yang pantas menjadi pengganti nabi di Kebun Bani Saad, salah satu tokoh Anshar memberikan hikmah kepada kita akan beberapa hal.

Pertama, kepemimpinan adalah satu hal yang sangat penting, sedemikian pentingnya sehingga para sahabat utama harus mendahulukan hal ini daripada mengurusi jenazah Rasulullah. Karena di tangan pemimpinlah maju-mundur dan jatuh-bangun organisasi ditentukan.

Kedua, terpilihnya Abu Bakar, meskipun Abu Bakar telah menawarkan Umar yang terkenal memiliki kemampuan rasional lebih baik, menunjukkan bahwa aspek figur (baca uswah) lebih mudah diterima khalayak daripada rasionalitas (baca karya). Meski sangat sulit mengukur siapa yang lebih baik dalam derajad ketakwaan.